Meningkatkan Usaha Pengepul Barang Bekas Di Surabaya Dengan Sistem Pengelolaan Sampah Terpadu

Dr. Abdul Halik, MM (Ketua) dosen UNTAG Surabaya bersama dua rekannya Dony Perdana, ST., MT, dan M. Adhi Prasnowo, ST., MT melakukan peningkatan usaha pengepul barang bekas di Kota Surabaya. Dengan sistem pengelolaan sampah terpadu dapat mengkombinasikan pendekatan pengurangan sumber sampah, daur ulang, pengkomposan, insinerasi dan pembuangan akhir.

Besarnya  volume sampah dan keterbatasan lahan untuk pembuangan akhir yang diiringi dengan pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi, dimana hal ini ditunjang pula oleh adanya teknis pengelolaan sampah yang masih konvensional seperti pewadahan tercampur dari rumah tangga, pengumpulan sampah dari rumah-rumah ke LPS Lahan Pembuangan. Sementara (LPS) meliputi depo atau landasan, pengangkutan sampah baik langsung dari sumbernya ke Lahan Pembuangan Akhir (LPA) atau dari LPS ke LPA, sampai pada pembuangan akhir sampah di LPA. Secara garis besar, sampah perkotaan mengandung 10% (berat) bahan yang langsung dapat didaur-ulang (kertas, besi, kaleng,dsb), 50% bahan organik dan 40% residu. Dengan demikian maka 60% (berat) sampah dapat di daur ulang : 10% melalui penggunaan kembali, dan 50% melalui pengomposan. Data dari Dinas Kebersihan Kota Surabaya menyebutkan dari total volume sampah harian kota Surabaya, 79,19%-nya merupakan sampah yang berasal dari pemukiman.

Dr. Abdul Halik mengatakan, pengurangan sumber sampah untuk industri perlu adanya teknologi proses yang nirlimbah serta packing produk yang ringkas/minim serta ramah lingkungan. Sementara pengurangan sumber sampah bagi rumah tangga berarti menanamkan kebiasaan untuk tidak boros dalam penggunaan  barang-barang keseharian.

“Untuk pendekatan daur ulang dan guna ulang diterapkan khususnya pada sampah non organik seperti kertas, plastik, alumunium, gelas, logam dan lain-lain,” ungkap dosen Fakultas Ekonomi itu kepada warta17agustus.com, Kamis (25/8/2016).

Dr. Abdul Halik mengungkapkan, kurangnya kesadaran akan limbah dan tingkat konsumsi masyarakat serta aktivitas lainnya yang semakin bertambah mengakibatkan sampah terus menumpuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Sampah yang umum ditemukan di TPA antara lain botol minuman, deterjen, dan kantong plastik. Sampah-sampah yang kurang menarik tersebut membuat kita enggan melihat bahkan meliriknya.

“Padahal jika kita mau berusaha sedikit, sampah-sampah tersebut dapat menjadi peluang usaha. Bahkan jika kita mau mengolahnya dengan benar, usaha ini dapat menjadi sumber daya. Sebagian besar kaleng dibuat dari aluminium melalui proses yang membutuhkan banyak energi,” tambahnya.

Sedangkan sampah kaleng dapat didaur ulang dengan melelehkan dan menjadikan aluminium sebagai bahan dasar produk baru. Dengan demikian, sumber energi dapat dihemat, polusi dapat dikurangi, dan sumber daya bauksit, kapur dan soda abu sebagai bahan dasar aluminium dapat di hemat.

Sementara itu, Dr. Abdul Halik bersama rekannya dalam meningkatkan usaha pengepul barang bekas di Kota Surabaya dengan cara melakukan sosialisasi tim pengabdian pada para mitra untuk mengetahui kebutuhan mengernai mesin yang bisa membantu percepatan proses pekerjaan sehingga mesin dapat disepakati, melakukan pendampingan pada mitra agar usahanya dapat berkembang, melalui informasi pada para pemulung agar menjual ke mitra.

“Mesin geleng dapat digunakan untuk mempercepat pengerjaan pengepresan kaleng dan untuk mengurangi beban kerja. Mesin geleng dibuat secara otomatis menggunakan listrik untuk menggerakkan motor ± 900 W, dengan asumsi saat sekarang untuk menyambung aliran listrik minimal 1300,” pungkasnya.

Komentar